Jumat, 20 Agustus 2010

Janji dan Takaran Kehormatan Manusia

ADA tiga orang pemuda berhasil menjambret uang ratusan juta dari
seorang nasabah bank. Mereka lari dan bersembunyi ke hutan. Setelah beberapa
hari bersembunyi, mereka kelaparan. Maka, mereka berunding untuk
membagi uang hasil rampokannya. Mereka sepakat sebelum membagi uang tersebut,
salah satu dari mereka pergi ke kota untuk mencari makanan dan
minuman.

Setelah salah satu pergi ke kota, dua pemuda yang berada di
persembunyian berpikir. "Seandainya uang ini dibagi dua saja, maka bagian kita
akan lebih banyak." Mereka sepakat, kalau temannya kembali dari kota
dihabisi saja nyawanya.

Pemuda yang pergi ke kota, setelah makan dan kenyang, dalam hatinya
terlintas pikiran, "Seandainya semua uang hasil rampokan tadi dimiliki
sendiri, tidak usah dibagi tiga, aku akan kaya raya." Maka ia berniat
menghabisi nyawa kedua rekannya itu deng an mencampurkan racun warangan
yang hampir tidak berbau ke dalam makanan.

Dengan tenangnya, ia kembali ke hutan. Ketika melongokkan kepala ke
gubug tempat persembunyian, dari dalam disambut dengan pentungan oleh
kedua rekannya. Sebentar kemudian ia jatuh dan tak bergerak lagi. Lalu,
kedua pemuda itu menikmati makanan dan minuman yang dibawa oleh teman yang
telah mereka bunuh, tak berapa lama keduanya pingsan dan tak sadarkan
diri untuk selamanya.

Itulah kisah tragis sahabat karib yang saling ingkar janji (berkhianat)
demi harta (hawa nafsu) dan ego pribadinya yang hanya sesat. Padahal,
bagaimanapun perilaku ingkar janji itu akan berbuah "kesengsaraan,
kecelakaan dan penderitaan" pada individu yang bersangkutan.

* *

DARI kisah di atas, ada satu hal yang patut dikontemplasi oleh kita.
Kontemplasi berarti merenung atau berpikir secara mendalam dan mendasar.
Yakni berkait dengan "janji manusia" dalam kehidupan sehari-hari.
Bila janji telah terucap, maka realisasinya harus terjawab, dipenuhi dan
diwujudkan dengan baik. Karena kalau janji itu terlenakan dan
diabaikan (dusta belaka), maka seperti kisah di atas akan berujung pada
kesengsaraan dan penderitaan yang tragis.

Keberadaan janji ini, memang akan selalu bersentuhan dengan kehidupan
manusia. Apalagi, misalnya menjelang pemilihan umum (Pemilu), akan
bertebaran janji-janji dari juru kampanye partai politik. Biasanya, untuk
menarik simpati masyarakat pemilih, mereka "mengobral" janji-janji
dengan embel-embel yang menggiurkan. Dan sering kali, tidak sedikit dari
janji-janjinya itu hanya dusta belaka. Padahal, kalau kita mau jujur
inilah sebenarnya salah satu penyebab keterpurukan bangsa ini.

Untuk itu, kita harus sadar. Seperti diakui dalam pandangan filsafat,
di dunia ini ada hukum sebab akibat. Artinya setiap tindakan selalu
mendapat ganjarannya. Setiap individu terikat pada hasil perbuatannya dalam
hidup sekarang dan hidup yang akan datang. Demikian pula terhadap
janji-janji yang kita ucapkan, bila diingkari akan terpulang pada diri
kita.

Itulah sebabnya, mengapa Sayyid Mujtaba Musavi Lari mengungkapkan, jika
lidah manusia telah teracuni oleh dusta, kotorannya akan tampak
padanya. Dampak-dampaknya adalah seperti angin musim gugur yang menghembus
daun-daun pepohonan. Dusta memadamkan cahaya eksistensi manusia dan
menyalakan api khianat dalam dada. Dusta juga memiliki pengaruh yang
menakjubkan dalam menghancurkan ikatan persatuan dan keharmonisan di antara
manusia serta mengembangkan kemunafikan.

Sebenarnya, penyebab besar menyangkut kesesatan manusia ialah bersumber
dari pernyataan-pernyataan batil dan kata-kata yang kosong. Di sini,
tentu sangat berbahaya terutama bagi manusia yang memiliki niat jahat,
karena dusta merupakan pintu terbuka untuk mencapai tujuan-tujuan
pribadinya dengan menyembunyikan fakta-fakta dibalik kata-kata magisnya, dan
kemudian menerkam orang-orang yang tidak berdosa dengan dusta-dusta
yang beracun.

Dari sini, setiap kita hendaknya waspada terhadap janji-janji yang kita
ucapkan. Sebab, kata Dr. Raymond Peach, dusta adalah senjata
pertahanan terbaik dari orang yang lemah dan jalan tercepat untuk menghindari
bahaya. Dalam banyak hal, dusta merupakan suatu reaksi terhadap kelemahan
dan kegagalan. Jadi, bila seseorang ingkar janji (berdusta) berarti
sesungguhnya ia adalah orang-orang yang lemah.

* *

JANJI jujur adalah salah satu sifat yang paling indah. Sebaliknya,
janji dusta merupakan salah satu sifat yang paling buruk. Di sini, lidah
berperan menerjemahkan perasaan-perasaan batin manusia keluar. Oleh
karena itu, jika dusta itu berangkat dari dengki/benci, maka ia merupakan
salah satu tanda yang berbahaya dari amarah. Dan jika dusta itu berangkat
dari kebakhilan atau kebiasaan, maka sesungguhnya sifat ini berasal
dari pengaruh-pengaruh nafsu manusia yang membara.

Al-Ghazali berkata, "Lidah adalah anugerah yang bermanfaat. Ia adalah
makhluk yang lembut, dengan tidak menghiraukan ukurannya yang kecil ia
melaksanakan tugas yang sangat penting ketika ia ingin taat dalam
keadaan tidak taat. Baik kafir maupun beriman, terejawantahkan melalui
lidah, dan ia adalah ibadah atau keingkaran yang penghabisan. "

Jadi, ketiadaan rasa tanggung jawab dan pelanggaran berbagai peraturan
hanya akan mewujudkan kejahilan akan asas-asas kehidupan dan mengantar
kepada kesengsaraan dan kerusakan. Tidak ada kesalahan yang lebih besar
daripada pelecehan terhadap para anggota masyarakatnya. Oleh karena
itu, kita harus mencegah pelanggaran kewajiban individual yang dilakukan
semata-mata untuk memenuhi nafsu-nafsu kita.

Menurut Buzarjumehr, pelanggaran sumpah (janji-Pen) menjauhkan martabat
manusia. Artinya orang-orang yang menyelewengkan dirinya dari jalan
yang benar dengan melanggar janji-janjinya, akan menanam benih-benih
penolakan dan kebencian di dalam hati orang lain. Pada akhirnya, tindakan
pelanggaran itu akan mempermalukannya, kemudian ia akan mencoba untuk
menutupi berbagai tindakannya dengan macam-macam alasan dan kontradiksi,
sehingga orang-orang yang mengetahui orang ini akan melihat bahwa ia
adalah seorang munafik yang tersesat.

Akhirnya dapat dikatakan, kalau ingkar janji itu termasuk diantara
unsur yang paling aktif dalam menciptakan perselisihan sosial dan
melemahkan ikatan diantara manusia. Sehingga pemenuhan janji itu penting bagi
seseorang yang ingin hidup bermasyarakat. Ia adalah landasan bagi
kebahagian, perkembangan dan keberhasilan sosial. Jadi, dengan kata lain
takaran kehormatan manusia dapat terukur dari seberapa besar ia mampu
menepati janji-janjinya. Wallahu'alam. ***
Best Regards,
Mohammad Zakki

1 komentar:

terima kasih atas responnya